Kepadamu

Daripada melihat posemu yang sudah tersingkap,
Aku malah menjadi kritikus
Habisnya, temaram silam berlalu
Cantik yang kau unggulkan itu telah siluet sepenuhnya
Selagi mata ini menyerah pada gelap yang memicu ketidakjelasan,
Tak hentinya aku berpetuah,
"Jangan berkawan cerpelai! Ia senang memakan ular."
Alih-alih patuh, dirimu memakinkan kacak pinggang
Begitulah! Sampai di situ saja?
Sejujurnya, aku penasaran dengan bibirmu yang hampir membuka katupnya
Meski, hampir enek unek-uneknya
Namun kefilmisanku menunjukkan pergantian selera
Yang kuno-kuno saja!
Sebab, sedang musimnya
Supaya laku di pasaran
Komersial bagian dari prinsipiil, kan?
Tenang! Meski tidak tajir, aku takkan memberimu tajin
Urung rutukmu saja buatku bergelegak
Lebih-lebih bila memanfaatkan segala hak
Semesta kita sangat selektif
Walau boroknya bobrok sama sekali
Dalam kemarau panjang, ia tak mengering
Bahkan oleh api hingga lidahnya putus lantaran membilangimu yang bandel
Pelataran ini akan terbelah dua
Semoga kita berada di sisi yang sama

Komentar

Postingan Populer