Mei Sedang Juni

Mei-mu maimun dalam seper-sekian kiat
Kelambu terseok, belum rihat sempurna
Bertengger hari-hari kesaksiannya
Dalam romantika prosede yang diharuskan

Merdeka adalah membikin tangga nada dalam hati
Seringkas itu mendengar di kemudian hari
Dan udara lembap bukan lagi kesenjangan,
Hangat menyerak adab-adab yang dikenai

Sisa-sisa rembulan melenguh
Terlalu bertumpuk baginya para muslihat yang luruh
Bukan lagi soal utuh,
Menggamit pun ia tak butuh

Cuma, cuma, percuma
Pilu diekspresikan tak sesuai,
Dimaknai menyimpang
Memori dan antek-anteknya bermunculan dari bangsal otak,
Ampun tiada arti menjumput sangkal

Juni adalah kelegaan bagi sebagian insan
Sisanya bersila mengopak-apik,
Membilangi semesta yang serupa

Komentar

Postingan Populer