Kisah Pendengar Jitu

Bila kau tak percaya,
Sehampar aksioma dapat membilangi
Bahwa,
Terlampau tak genap masa kanak-kanak,
Silampukau beterbangan berasak-asak
Diri ini pendengar jitu,
Pun peka akan hadirnya maut

Baik, baik, kujelaskan
Sepanjang langkah berpuluh tahun,
Badan meleyot, kulit melempem,
Pandangan kelam, namun kuping makin tajam
Aku damai dengan derik yang berberai
Yang ber-warta-kan ajal-ajal sekitar
Acap kali pendengar jitu ini salah sangka
Capai menerka sampai waktunya sendiri telah tiba

Wahai! Tak disangka! Ajal terdengar!
Bunyinya pekak, tapi bunyi hanya di rungu, kan?
Jiwaku bungah
Lagian aku menghuni seorang diri,
Maka maut bebas menghunjam dari berbagai sisi
Ia takkan salah badan

Belum jua saat yang dinanti
Bosan merintis di julur-julur saraf
Wahai!
Baik, baik, bila tiada penjemput,
Maka aku yang datang, merujuk mati, membujuk 'tuk bersatu lagi
Entah dengan pisau daging,
Entah mandi bensin, sekalian memetik macis

Sebelum tuntas nyawaku,
Kuingin kalian tahu
Bahwa,
Diri ini hanya pendengar jitu
Tugasnya mewujudkan fisarat buruk

Komentar

Postingan Populer