Patah Hati, Patah Lagi
1. Sudah terlampau lama
Halaman hati tak berisi pesaduran
Alang-alang kian menyertai setiap niat
Waktu berjalan dan mereka tumbuh tinggi memburamkan penglihatan
Buta buta buta, seketika noda itu melusuhkan keseharian
2. Seok-seok langkah peruntuhan
Tatih-tatih kalimat penutupan
Dalam babak kesadaran, bahwa hati ini sudah tak patut di-salah-guna-kan
Menarik napas semestinya, mengembuskan dengan penuh dengki amarah
3. Mengenai cinta yang menahbiskan diriku untuk api pembakar cerutu
Diisap cepat-cepat, disisakan sebagian
Disaku bersama hati yang tak lagi utuh
Mengeping, memicis, berisik di dalamnya
4. Lalu berhamburan, kujumput pelan-pelan
Seiring tangis mengering, mereka bertumpuk
Menjelma kertas-kertas hidup
Dan ditata kembali pada bilik istimewa
Berharap anak pinaknya mengembalikan bahagia
5. Hingga taraf normalku kembali,
Menggaung kalimat-kalimat bersekutu, mengobati diri
6. Yang diambisikan hanyalah berdikari
Sebab tak ada seujar kata pun dari mulut lain yang mampu menghakimi
Halaman hati tak berisi pesaduran
Alang-alang kian menyertai setiap niat
Waktu berjalan dan mereka tumbuh tinggi memburamkan penglihatan
Buta buta buta, seketika noda itu melusuhkan keseharian
2. Seok-seok langkah peruntuhan
Tatih-tatih kalimat penutupan
Dalam babak kesadaran, bahwa hati ini sudah tak patut di-salah-guna-kan
Menarik napas semestinya, mengembuskan dengan penuh dengki amarah
3. Mengenai cinta yang menahbiskan diriku untuk api pembakar cerutu
Diisap cepat-cepat, disisakan sebagian
Disaku bersama hati yang tak lagi utuh
Mengeping, memicis, berisik di dalamnya
4. Lalu berhamburan, kujumput pelan-pelan
Seiring tangis mengering, mereka bertumpuk
Menjelma kertas-kertas hidup
Dan ditata kembali pada bilik istimewa
Berharap anak pinaknya mengembalikan bahagia
5. Hingga taraf normalku kembali,
Menggaung kalimat-kalimat bersekutu, mengobati diri
6. Yang diambisikan hanyalah berdikari
Sebab tak ada seujar kata pun dari mulut lain yang mampu menghakimi
Komentar
Posting Komentar